Dakwah yang dilakukan secara berkesinambungan tidak hanya menghadirkan kajian dan ceramah, tetapi juga dapat berkembang menjadi pembinaan masyarakat, pendidikan, penguatan generasi muda, serta pendirian berbagai lembaga yang memberikan manfaat dalam jangka panjang. Perjalanan dakwah Imam Maulid Harahap, S.Pd.I., menjadi salah satu gambaran bagaimana amanah dakwah dapat berkembang melalui proses yang panjang, konsisten, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Dai Imam Maulid Harahap, S.Pd.I. bergabung dengan Yayasan Peduli Kemanusiaan Arrisalah sebagai dai pada tahun 1437 H / 2016 M. Ia ditempatkan di Desa Buantan Besar, Kecamatan Siak, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, untuk menjalankan amanah dakwah dan pembinaan masyarakat. Selama kurang lebih 11 tahun mengabdi bersama Yayasan Peduli Kemanusiaan Arrisalah, ia terus menjalankan berbagai program dakwah sekaligus mengembangkan kegiatan pendidikan dan sosial di tengah masyarakat. Pada tahun yang sama, ia juga menyelesaikan pendidikan terakhirnya pada jenjang S1 di STAI As-Sunnah Deli Serdang.
Dalam menjalankan tugas dakwah, Imam Maulid Harahap tidak hanya berfokus pada satu kelompok masyarakat. Program dakwahnya mencakup pembelajaran bagi remaja dan remaji, pembinaan masyarakat umum, kajian rutin dan dauroh, khutbah Jumat, pembelajaran anak-anak, serta dakwah melalui media sosial dan telepon seluler. Selain itu, ia juga menyampaikan ceramah di berbagai lembaga, radio, televisi, lembaga pemasyarakatan, serta kegiatan masyarakat seperti pernikahan. Kunjungan kepada tokoh masyarakat juga menjadi salah satu pendekatan yang dilakukan untuk membangun komunikasi dan memperluas hubungan dakwah.
Seiring berjalannya waktu, penerimaan masyarakat terhadap dakwah yang dilakukan semakin berkembang. Amanah yang diberikan kepadanya juga semakin luas. Salah satu bentuk kepercayaan tersebut adalah perannya sebagai Pimpinan Yayasan As-Salamah Alkhairiyah – Siak, sebuah lembaga yang diarahkan untuk mengembangkan program di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial. Peran tersebut menunjukkan bahwa perjalanan dakwahnya tidak berhenti pada aktivitas penyampaian ilmu, tetapi berkembang menjadi upaya membangun lembaga yang dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Dalam bidang kajian dan pembinaan masyarakat, Imam Maulid Harahap aktif menjadi khatib dan pemateri di berbagai wilayah. Kegiatan dakwahnya menjangkau Desa Buantan Besar, Desa Sabak Auh, Desa Sungai Apit, Sungai Pinang, Kampung Dayun, Benteng Hilir, hingga Sungai Pakning dan wilayah lainnya di Kabupaten Siak dan sekitarnya. Jangkauan tersebut memperlihatkan bahwa dakwah yang dilakukan telah berkembang melampaui satu lokasi tugas dan menjangkau masyarakat di berbagai wilayah.
Selain berdakwah di masjid dan lingkungan masyarakat, ia juga mendapat kepercayaan untuk menjadi pemateri di Pondok Pesantren Abu Musa Al-Asy’ari Siak. Ia juga menjadi pemateri tetap bagi para guru di sejumlah lembaga pendidikan sekitar Siak. Pembinaan tersebut mencakup guru-guru di TK Al-Husna, TK Ar-Ruqoyyah Siak, SDIT Al-Husna, MI Imam Ahmad, TK Imam Ahmad, serta SDIT Abu Musa Al-Asy’ari Siak.
Kegiatan pembinaan kepada para pendidik menjadi bagian penting dalam perjalanan dakwahnya. Para guru memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter dan pengetahuan generasi berikutnya. Dengan memberikan pembinaan kepada para pendidik, dakwah tidak hanya menjangkau peserta kajian secara langsung, tetapi juga berpotensi memberikan pengaruh melalui para guru yang setiap hari berinteraksi dengan anak-anak dan peserta didik.
Jangkauan kajian yang dilakukan juga terus berkembang. Imam Maulid Harahap tercatat menjadi pemateri di 13 tempat yang meliputi masjid, mushalla, sekolah, dan yayasan di wilayah Kabupaten Siak, Kabupaten Bengkalis, dan sekitarnya. Di antara tempat tersebut adalah Masjid Imam Qurtuby, Masjid Imam Syafi’i, Masjid Ubay bin Ka’ab, Masjid Roudhatussalam Sungai Apit, Masjid Uwaisy Al-Qorni Sungai Apit, Mushalla Nurul Jihad, Mushalla Utsman bin Affan, Mushalla Muhammadiyah Pakning, TK Ar-Ruqoyyah, Sekolah Abu Musa Al-Asy’ari Siak, Sekolah Al-Furqon, Yayasan Al-Muhajirin Sabak Auh, dan SDIT Al-Husna.
Salah satu capaian penting dalam perjalanan dakwah tersebut adalah berdirinya Yayasan As-Salamah – Siak, yang memiliki arah pengembangan pada bidang pendidikan, dakwah, dan sosial. Pendirian lembaga ini menjadi bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan wadah yang dapat mengelola berbagai kegiatan secara lebih terstruktur dan memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.
Dalam bidang pendidikan, salah satu hasil yang telah dikembangkan adalah berdirinya Sekolah Dasar Islam Terpadu Al-Husna dengan jumlah 47 siswa. Kehadiran lembaga pendidikan tersebut menjadi salah satu bentuk nyata dari pengembangan dakwah melalui jalur pendidikan. Selain pendidikan formal, didirikan pula Taman Kanak-Kanak dan TPA Al-Husna yang saat ini memberikan pembelajaran kepada lebih dari 40 anak.
Pembinaan anak-anak juga dilakukan melalui TPA yang berada di masjid yang dikelola oleh Yayasan Peduli Kemanusiaan Arrisalah, dengan jumlah peserta lebih dari 40 anak. Keberadaan TPA tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan Al-Qur’an sejak usia dini dan membangun kedekatan anak-anak dengan masjid serta pembelajaran agama.
Selain pembinaan anak-anak, perhatian juga diberikan kepada kaum wanita dan orang tua melalui program pembelajaran bahasa Arab. Terdapat 8 kelompok pembelajaran bahasa Arab yang diikuti oleh sekitar 55 peserta. Program ini menjadi bagian dari pengembangan pendidikan masyarakat, khususnya dalam memberikan sarana untuk meningkatkan kemampuan memahami bahasa Arab yang berkaitan dengan pembelajaran keislaman.
Dalam pembinaan Al-Qur’an, terdapat 15 orang yang telah menghafal Al-Qur’an dengan tingkatan hafalan yang beragam, mulai dari 1 juz, 2 juz, hingga 5 juz. Capaian tersebut menjadi bagian dari buah pembinaan yang dilakukan secara bertahap. Setiap tambahan hafalan merupakan langkah dalam membangun generasi yang lebih dekat dengan Al-Qur’an dan memiliki semangat untuk terus meningkatkan kemampuan mereka.
Pengembangan dakwah juga diarahkan pada aspek kemandirian lembaga. Salah satu ikhtiar yang telah dilakukan adalah membangun unit usaha produktif, di antaranya usaha sawit, jual beli mobil, dan pupuk. Pengembangan usaha tersebut diarahkan untuk mendukung kemandirian finansial dakwah yayasan sehingga berbagai program pendidikan, sosial, dan dakwah dapat memiliki sumber daya yang lebih kuat untuk terus berjalan.
Perjalanan Imam Maulid Harahap, S.Pd.I. di Siak menunjukkan bahwa dakwah dapat berkembang dari penyampaian ilmu menjadi pembinaan masyarakat yang lebih luas. Kajian, khutbah, pendidikan anak, pembinaan guru, pembelajaran bahasa Arab, pengembangan lembaga pendidikan, pembinaan Al-Qur’an, hingga penguatan kemandirian ekonomi merupakan rangkaian aktivitas yang saling mendukung dalam membangun ekosistem dakwah.
Bagi Yayasan Peduli Kemanusiaan Arrisalah, perjalanan para dai di berbagai wilayah merupakan bagian dari amanah untuk menghadirkan pembinaan Islam secara berkelanjutan. Keberadaan dai di tengah masyarakat diharapkan tidak hanya menghadirkan kajian dalam waktu tertentu, tetapi juga membangun hubungan yang berkelanjutan dengan masyarakat sehingga lahir berbagai kegiatan pendidikan, sosial, dan dakwah yang dapat terus berkembang.
Semoga Allah ﷻ memberikan keberkahan dan keistiqamahan kepada Dai Imam Maulid Harahap, S.Pd.I. dalam menjalankan amanah dakwah. Semoga setiap kajian yang disampaikan, setiap anak yang dibimbing, setiap guru yang mendapatkan pembinaan, setiap ayat yang dihafalkan, serta setiap lembaga yang dibangun menjadi bagian dari amal jariyah yang terus memberikan manfaat.
Semoga seluruh ikhtiar dakwah di Kabupaten Siak dan wilayah sekitarnya terus berkembang, memberikan manfaat kepada masyarakat, dan melahirkan generasi yang mencintai Al-Qur’an serta memiliki pemahaman Islam yang baik. Semoga Allah ﷻ juga membalas kebaikan seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan dakwah ini dan menjadikan setiap kontribusi sebagai amal yang diterima di sisi-Nya.
